Jumat, 20 November 2020

evaluasi pelaksanaan span-um ptkin yg kesekian kalinya

Evaluasi yg dirasa jadi rutin dan terasa hanya menghabis anggaran aja

Kamis, 20 Agustus 2020

Kamis, 20 September 2012

Promosi kebebasan dan pluralisme agama yang dilakukan Amerika Serikat di Indonesia Kontraproduktif

Hari kamis tanggal 20 september 2012 saya menghadiri forum kunjungan rombongan dari AS ke IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam rombongan tersebut terdiri lembaga riset pemberi masukan buat kebijakan Kongres AS dan rombongan dari Konjen AS di Surabaya. Dari paparan tamu tersebut diketahui maksud kedatangannya untuk menilai sejauhmana keberhasilan program-program kampenye kebebasan beragama yang disponsori oleh AS di Indonesia. Diantara peserta yang hadir mayoritas adalah alumni program-program AS dalam mempromosikan kebebsan beragama. Sebagai alumni program tersebut maka tak heran bila forum tersebut lebih berisi puja dan puji keberhasilan program-program AS di Indonesia dalam pengembangan pluralitas dan kebebsan beragama di Indonesia. Saya sebagai orang yang tidak mempunyai keterkaitan apapun dgn program-program AS tersebut merasa perlu ikut memberikan pendapat dalam forum tersbut. Pendapat saya tersebut adalah: 1. Promosi program-program pluralisme yang dilakukan AS pada dasarnya kontraproduktif dengan prilaku warga AS sendiri yang mempunyai kecurigaan dan kebencian terhadap pemeluk agama Islam sebagaimana ditunjukkan oleh kemunculan film "Innocent" yang sekarang lagi ramai digugat karena dianggap menghina Nabi Muhammad SAW dan Umat Islam. 2. Prilaku politik AS yang secara membabi buta mendukung Zionisme Israel memberikan luka yang dalam bagi Ummat Islam dunia. Perilaku ini secara tidak langsung mencerminkan ketidak setaraan pandangan AS terhadap Islam dan Ummat Islam dunia. Dalam posisi ketidak setaraan pandangan maka kampanye pluralisme dan kebebasan pluralisme beragama yang dikampanyekan oleh AS hanya bersifat omong kosong belaka. 3. Pandangan AS ingin mengajari bangsa Indonesia dengan pluralisme dan kebebasan beragama sebenarya pandangan yang tidak tepat karena Tradisi Lokal Indonesia lebih kaya mengajari bagaimana kebebesan dan pluralisme ini dihargai di Indonesia. Sebagai gambaran dalam tradisi lokal keseharian masyarakat hampir tidak mempermasalahkan adanya perbedaan keyakinan dan keagamaan. Dalam masyarakat Jawa (sejauh yang saya lihat sehari-hari) perkawinan beda agama dan perubahan keyakinan keagamaan seolah menjadi fenomena biasa-biasa saja dan dianggap sebagai hak individu. Adanya letupan-letupan kekerasan yang sering mencatut agama pada dasranya bukanlah konflik keagamaan. Spt konflik ambon dan sampit pemicu terbesar lebih pada adanya kesnjangan dan perebutan akses ke sumber ekonomi.

Selasa, 18 September 2012

Fatwa NU: Hukum Mati bagi koruptor

Adanya keberanian hasil Munas NU tentang fatwa hukum mati bagi pelaku korupsi dan fatwa tentang hilangnya legitimasi kewajiban pajak bila tata kelolanya tidak dapat dipertanggungjawabkan semoga tidak sekedar ikut arus pencitraan dan hanya omong kosong tampa langkah kongkrit yang pasti. Dan yang lebih pasti pihak NU sendiri harus siap bila keputusan ini bisa menjadi pisau lancip yang bisa menusuk kadernya sendiri. Bukankah sudah diketahui oleh umum bahwa yang sedang menjalankan roda kekuasaan sekarang mayoritas orang NU atau yang mengaku NU. Dan akhirnya sejarahlah yang akan menjadi saksi

Senin, 17 September 2012

Perulangan Fase Kehidupan

"Wah mas ketemu lagi" ungkap seorang penjual nasi pecel pagi tadi ketika saya beli sarapan. Kemarinnya mendapat kalimat yang sama dari beberapa pedagang yang ditemui setelah 10 tahun lebih tidak ketemu. Seolah fase kehidupan diputar kembali pada tahun 2000 ketika kost lagi setelah 10 tahun meninggalkan wonocolo.